Ketika Aku Mulai Mengenalnya
Ketika ku tahu, ketika ku dengar
Bahwa engkau ada di sana
Di dalam kandungan ibu mu
Aku bahagia, aku luluh dan aku menangis menjatuhkan
air mata ini
Untuk pertama kalinya, akulah yang menyambut
kehadiran mu
Untuk pertama kalinya, akulah satu-satunya orang yang
berdoa untuk mu
Agar engkau baik-baik di sana dan terjaga
Agar engkau terbentuk dan menjadi serupa ayah mu…
Mulai ku lukiskan sebuah pengharapan
Tentang engkau, tentang aku dan tentang kita
Tentang hari esok yang akan kulalui bersama mu
Menapaki kehidupan yang indah di bawah kolong langit
ini…
Aku sudah sempat memikirkan namamu
Aku sudah sempat mempersiapkan tempat untuk engkau
meletakkan kepala mu
Aku juga sudah mulai berangan-angan akan membawa mu
pulang
Menemui ayah dari ayah mu… ibu dari ibu mu…
Namun ternyata, langkah kita tidak seirama anak ku
Pikiran kita tidak sejalan wahai belahan jiwa ku
Engkau telah pergi meninggalkan ku, ayah mu
Telah pulang terlebih dahulu kerumah Bapa kita yang
kekal!
Anakku, ya anak ku…
Yang telah dipanggil Tuhan di saat tulang-tulangnya
baru terbentuk
Di kala wajahnya mulai terukir mengikuti lekuk wajah
ku
Ketika mata mu dan mulut mu mulai menyamai keanggunan
ibu mu
Bahkan lagi… dikala kaki-kaki mu mulai
menendang-nendang dirahim ibu mu
Aku baru saja mulai mengenal mu anak ku
Ya, aku baru saja berkenalan dengan mu
Dalam setiap doa dan senda gurau ku di malam hari
Di setiap saat teduh ku di pagi hari
Tetapi, belum saja aku mendengarkan suara tangis mu
Engkau telah pergi dari hidup ku
Belum saja sempat aku memasangkan satu helai kaus
kaki di kaki mu
Engkau telah tiada untuk selama-lamanya!
Ketika Allah berkata “Dia ku panggil ke rumah ku”
Aku seperti ingin mati saja
Ketika aku tahu bahwa aku akan menggendong mu
Tetapi tidak untuk membawa mu pulang ke rumah ku,
melainkan kerumah Bapa kita
Aku seperti tak ingin meneruskan semua ini…
Seketika tulang-tulang ku ingin jatuh tak berdaya
Nafas ku ingin terhenti dan sesak
Apakah ini? Benarkah ini? Sungguhkah ini?
Itulah seruan yang ada didalam benak ku!
Perasaan duka yang mendalam
Kepedihan yang menusuk hingga kejiwa ku
Hampir saja membuat ku jatuh tak berdaya
Dan hampir membuat ku melemahkan dia, sang kekasih
ku!
Ditengah keadaan yang pilu itu wahai anaku ku
Aku hanya berusaha mengingat apa yang Bapa kita
katakan
Bahwa Dia turut bekerja dalam segala hal
Hanya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita
Meskipun sampai saat ini
Hingga detik kata-kata cinta ku ini tertulis untuk mu
Aku belum bisa mengerti mengapa semua ini terjadi!
Aku belum bisa memahami, mengapa? Mengapa?
Tetapi, apakah aku layak menghakimi Allah kita anak
ku?
Mungkinkah aku perlu sampai menghujat Dia?
Tidak, itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah
Sebab, Dialah yang empunya, Dialah yang mengambil
Aku telah tersimpuh dibawah kaki-Nya
Aku dan dia ibu mu, telah siang dan malam terduduk di
sini
Berseru kepada Allah kita
Agar Dia menguatkan kami, yang telah engkau
tinggalkan
Kini aku telah mengukir indah nama mu anak ku
Mengukir indah nama mu dihati ku
Di hati kami dan di hati mereka!
Nama yang indah, sesuai dengan mimpi ayah mu
Nama yang telah ku ukir di batu nisan mu
Menjadi peringatan akan kebesaran Tuhan Allah kita
Menjadi tempat aku datang jika merindu
Serta menjadi persinggahan di kala aku mau mengenang
mu
Sabarlah engkau, nantikanlah kami
Aku dan ibu mu akan melanjutkan semua ini
Sampai Dia juga berkata cukup
Dan kami menemui engkau dalam kehidupan baka
Terimakasih untuk kebahagiaan yang sempat engkau
berikan bagi ku
Wahai anak ku kekasih
Meski singkat kita berteman, namun betapa mulianya
kasih mu
Wahai anak ku yang terkasih
Sampai jumpa kelak
Dalam surga-Nya Allah kita
Melihat mu muka dengan muka
Dan memelukmu dalam kekekalan!
Mengenang
anaku ku
Paulus
Batulesi Purba
26
Februari 2022
Yang
telah dipanggil pulang pada hari kelahirannya!
Posting Komentar