ZMedia Purwodadi

Ketika Aku Mulai Mengenalnya

Table of Contents

 

Ketika ku tahu, ketika ku dengar

Bahwa engkau ada di sana

Di dalam kandungan ibu mu

Aku bahagia, aku luluh dan aku menangis menjatuhkan air mata ini

 

Untuk pertama kalinya, akulah yang menyambut kehadiran mu

Untuk pertama kalinya, akulah satu-satunya orang yang berdoa untuk mu

Agar engkau baik-baik di sana dan terjaga

Agar engkau terbentuk dan menjadi serupa ayah mu…

 

Mulai ku lukiskan sebuah pengharapan

Tentang engkau, tentang aku dan tentang kita

Tentang hari esok yang akan kulalui bersama mu

Menapaki kehidupan yang indah di bawah kolong langit ini…

 

Aku sudah sempat memikirkan namamu

Aku sudah sempat mempersiapkan tempat untuk engkau meletakkan kepala mu

Aku juga sudah mulai berangan-angan akan membawa mu pulang

Menemui ayah dari ayah mu… ibu dari ibu mu…

 

Namun ternyata, langkah kita tidak seirama anak ku

Pikiran kita tidak sejalan wahai belahan jiwa ku

Engkau telah pergi meninggalkan ku, ayah mu

Telah pulang terlebih dahulu kerumah Bapa kita yang kekal!

 

Anakku, ya anak ku…

Yang telah dipanggil Tuhan di saat tulang-tulangnya baru terbentuk

Di kala wajahnya mulai terukir mengikuti lekuk wajah ku

Ketika mata mu dan mulut mu mulai menyamai keanggunan ibu mu

Bahkan lagi… dikala kaki-kaki mu mulai menendang-nendang dirahim ibu mu

 

Aku baru saja mulai mengenal mu anak ku

Ya, aku baru saja berkenalan dengan mu

Dalam setiap doa dan senda gurau ku di malam hari

Di setiap saat teduh ku di pagi hari

  

Tetapi, belum saja aku mendengarkan suara tangis mu

Engkau telah pergi dari hidup ku

Belum saja sempat aku memasangkan satu helai kaus kaki di kaki mu

Engkau telah tiada untuk selama-lamanya!

 

Ketika Allah berkata “Dia ku panggil ke rumah ku”

Aku seperti ingin mati saja

Ketika aku tahu bahwa aku akan menggendong mu

Tetapi tidak untuk membawa mu pulang ke rumah ku, melainkan kerumah Bapa kita

Aku seperti tak ingin meneruskan semua ini…

 

Seketika tulang-tulang ku ingin jatuh tak berdaya

Nafas ku ingin terhenti dan sesak

Apakah ini? Benarkah ini? Sungguhkah ini?

Itulah seruan yang ada didalam benak ku!

 

Perasaan duka yang mendalam

Kepedihan yang menusuk hingga kejiwa ku

Hampir saja membuat ku jatuh tak berdaya

Dan hampir membuat ku melemahkan dia, sang kekasih ku!

 

Ditengah keadaan yang pilu itu wahai anaku ku

Aku hanya berusaha mengingat apa yang Bapa kita katakan

Bahwa Dia turut bekerja dalam segala hal

Hanya untuk mendatangkan kebaikan bagi kita

 

Meskipun sampai saat ini

Hingga detik kata-kata cinta ku ini tertulis untuk mu

Aku belum bisa mengerti mengapa semua ini terjadi!

Aku belum bisa memahami, mengapa? Mengapa?

 

Tetapi, apakah aku layak menghakimi Allah kita anak ku?

Mungkinkah aku perlu sampai menghujat Dia?

Tidak, itu tidak akan mungkin dan tidak akan pernah

Sebab, Dialah yang empunya, Dialah yang mengambil

  

Aku telah tersimpuh dibawah kaki-Nya

Aku dan dia ibu mu, telah siang dan malam terduduk di sini

Berseru kepada Allah kita

Agar Dia menguatkan kami, yang telah engkau tinggalkan

 

Kini aku telah mengukir indah nama mu anak ku

Mengukir indah nama mu dihati ku

Di hati kami dan di hati mereka!

Nama yang indah, sesuai dengan mimpi ayah mu

 

Nama yang telah ku ukir di batu nisan mu

Menjadi peringatan akan kebesaran Tuhan Allah kita

Menjadi tempat aku datang jika merindu

Serta menjadi persinggahan di kala aku mau mengenang mu

 

Sabarlah engkau, nantikanlah kami

Aku dan ibu mu akan melanjutkan semua ini

Sampai Dia juga berkata cukup

Dan kami menemui engkau dalam kehidupan baka

 

Terimakasih untuk kebahagiaan yang sempat engkau berikan bagi ku

Wahai anak ku kekasih

Meski singkat kita berteman, namun betapa mulianya kasih mu

Wahai anak ku yang terkasih

 

Sampai jumpa kelak

Dalam surga-Nya Allah kita

Melihat mu muka dengan muka

Dan memelukmu dalam kekekalan!

 

Mengenang anaku ku

Paulus Batulesi Purba

26 Februari 2022

Yang telah dipanggil pulang pada hari kelahirannya!

Posting Komentar