Pemeliharaan Allah atas Krisis Ekonomi
Krisis ekonomi menjadi momok yang sangat menakutkan bagi banyak orang.
Berbagai upaya telah dan masih akan terus dilakukan untuk menghindar dari
krisis ekonomi. Namun faktanya, krisis ekonomi tidak akan pernah sirna dari
kehidupan kita; entah itu sebuah negara atau bangsa, lembaga atau organisasi,
gereja dan keluarga Kristen, bahkan setiap
individu, tidak luput dari yang namanya krisis ekonomi.
Melihat kenyataan itu, bagaimanakah cara kita sebagai orang Kristen
memandang dan menyikapi hal tersebut? Apa yang harus kita lakukan sebagai orang
yang percaya kepada Kristus di dalam menghadapi
saat-saat krisis ekonomi yang sedang terjadi dan yang mungkin akan terjadi? Sebelum jauh
melangkah, ada baiknya jikalau kita terlebih dahulu mengetahui arti dari judul
tulisan ini. Apakah yang di maksud dengan krisis ekonomi dan pemeliharaan
Allah? Arti krisis adalah keadaan yang berbahaya, atau keadaan suram, sementara
ekonomi memiliki arti sebagai berikut: tata kehidupan perekonomian, urusan
keuangan rumah tangga, organisasi atau negara. Jikalau krisis dan ekonomi di
satukan itu artinya: kemerosotan dalam kegiatan ekonomi yang dapat menimbulkan
depresi (KBBI).
Keadaan
krisis tentu menimbulkan kekuatiran di dalam diri manusia. Dan kenyataan ini
juga menimpa begitu banyak orang Kristen. Tetapi sebagai orang percaya, kita
tetap harus mempercayai Tuhan di dalam segala keadaan; sebagai Pribadi yang
selalu ada dan menopang segala yang ada. Inilah yang disebut sebagai pemeliharaan
Allah. Apakah pemeliharaan Allah itu? Pemeliharaan
berasal dari kata pelihara yang memiliki arti: menjaga dan merawat.
Pemeliharaan itu artinya proses atau cara dalam perbuatan memelihara. Di dalam ranah teologi: pemeliharaan Allah tersebut di kenal dengan istilah
providensi Allah. Dalam bahasa Inggris, ‘Providence’ berarti ‘pemeliharaan baik’.
Tetapi dalam teologia, ‘Providence’ berarti lebih dari sekedar ‘pemelihara-an
baik’. ‘Providence’ adalah pelaksanaan yang tidak mungkin gagal dari rencana
Allah, atau pemerintahan serta pengaturan terhadap segala sesuatu sehingga rencana
Allah terlaksana. B. B. Warfield di dalam bukunya Biblical and Theological Studies pernah berkata “Pekerjaan-Nya dalam providence semata-mata merupakan pelaksanaan dari rencana-Nya yang mencakup segala sesuatu”. Jadi sekalipun Providence berbeda dengan rencana Allah, tetapi keduanya
berhubungan sangat erat.
Sekarang marilah kita melihat kondisi ekonomi kita terlebih dahulu dari sisi ekonomi bangsa. Dampak dari penularan COVID-19 yang berkepanjangan atas Indonesia telah mengubah banyak hal, terutama pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi itu sendiri mungkin saja bisa positif, tetapi dengan angka yang lebih rendah. Menurut Bhima Yudhistira (Direkrut Center of Economic and Law Studies), Indonesia butuh waktu lebih lama untuk kembali ke pertumbuhan sebelum adanya COVID-19. Misalnya pada tahun 2019 ekonomi secara satu tahun penuh tumbuh 5,02 persen. Oleh karena itu, jikalau saat ini bisa tumbuh mencapai 2 persen sampai 4 persen hingga tahun 2022 saja, itu sudah bagus. Artinya Indonesia jadi lebih lama kembali ke posisi negara berpendapatan menengah atas. Kata dia kepada merdeka.com (10/8/21). Dengan kondisi tersebut, maka Indonesia diperkirakan akan mengalami secular stagnation atau pertumbuhan rendah, ini terjadi karena sisi permintaan tidak bergerak signifikan.
Akibat
kondisi ekonomi yang melemah dalam masa pandemi ini, kita melihat terjadi
pemutusan hubungan kerja di mana-mana, pengangguran semakin marak, gaji tenaga
kerja dipangkas, pergerakan ekonomi pasar merosot dan keadaan ini semua telah
banyak membuat orang menjadi putus asa dan hanya mengharapkan pertolongan orang
lain. Tentunya kita sebagai anak Tuhan tidak boleh juga hanya melihat aspek
penyebab ekternal seperti pandemi, karena sesungguhnya krisis ekonomi juga bias
terjadi oleh karena faktor internal dari diri kita sendiri, seperti; hutang yang
dibuat sendiri, manajemen keuangan yang salah, tidak bisa membedakan antara
yang prioritas dan yang tidak prioritas, antara kebutuhan dan keinginan, dan
yang terakhir adalah malas. Semua faktor ini dapat menyebabkan krisis ekonomi
individu dan krisis ekonomi keluarga Kristen. Pernahkah kita mendeteksi semua
itu? Atau kita hanya cenderung menyalahkan kondisi! Ada baiknya kita merenungkan
semua hal ini, sebab kemungkinan besar krisis ekonomi juga disebabkan oleh
faktor internal diri kita sendiri.
Dengan
melihat kepada kondisi ekonomi kita hari ini, maka tulisan kali ini sangat
relevan. Ditambah maraknya anggapan-anggapan yang salah tentang topik tulisan
kita kali ini, membuat tulisan ini menjadi sangat penting untuk diketahui orang
Kristen, agar dapat meneguhkan mereka ditengah badai krisis ekonomi. Sebut saja
dua anggapan yang salah perihal topik ini adalah: ada diantara orang Kristen yang
beranggapan bahwa Allah telah menjamin kita dan memelihara kita, itu berarti
kita tidak akan pernah mengalami masa krisis ekonomi. Lalu ada juga yang
beranggapan bawa Allah memberkati kita dan itu pasti, maka secara otomatis kita
pasti akan menerimanya, jadi kita tidak perlu berbuat apa-apa dan cukup
menantikan saja pertolongan Tuhan! Dua anggapan ini jelas bertentangan dengan
apa yang dikatakan Alkitab mengenai pemeliharaan Allah. Oleh sebab itu mari
kita melihat apa yang dimaksud dengan pemeliharaan Allah.
Pemeliharaan
Allah bersifat Terancang
Allah tidak merancang dan bertindak setelah sesuatu terjadi terlebih dahulu, tetapi sesungguhnya Allah telah merancang, mengetahui dan kemudian bertindak sehingga sesuatu terjadi. Ini artinya pemeliharaan Allah itu tidak bersifat temporal. Allah tidak merencanakan untuk berbuat setelah sesuatu terjadi. Allah tidak bertindak dan mencari solusi setelah masalah terjadi. Ini tidak cocok dengan Allah dan lebih cocok kepada manusia; karena manusialah yang berencana dan mencari solusi setelah masalah terjadi! Allah mahatahu sehingga Dia tidak perlu menyaksikan apa yang akan terjadi untuk kemudian Ia mencari solusi. Justru apa yang terjadi atas alam semesta ini, semua dapat terlaksana hanya oleh karena pemeliharaan Allah.
Allah
berkata “Ingatlah hal-hal yang dahulu
dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah
Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang
kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata:
Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan, yang
memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusan-Ku dari
negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya,
Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya” (Yes 46:9-11).
Ada beberapa kalimat yang harus kita perhatikan dari nas di atas, yakni; ‘yang
memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian’, ‘dari zaman purbakala apa yang
belum terlaksana’, ‘Keputusan-Ku akan sampai dan segala kehendak-Ku akan
Kulaksanakan’ dan ‘Aku telah merencankannya, maka Aku hendak melaksanakannya’.
Dari kalimat-kalimat tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa Allah
di dalam bertindak tidak bersifat temporal, melainkan terencana. Allah tidak
bersifat dadakan di dalam mengontrol segala yang terjadi, tetapi sedemikian
rupa dan penuh hikmat telah merancang, mengatur dan menghendaki apa yang telah
Ia pikirkan untuk terjadi. Entah itu adalah hal yang baik maupun hal yang buruk
menurut kita. Apakah itu adalah perkara yang besar maupun perkara yang kecil;
semua di dalam kehendak pemeliharaan-Nya!
Krisis
ekonomi yang sering terjadi dalam kehidupan orang percayapun, tidak luput dari
pemeliharaan Allah. Ini artinya; krisis yang sedang terjadi merupakan hal yang
terjadi oleh karena kehendak atau izin Allah. Ya, ini sungguh benar! Bahwa
krisis ekonomi oleh karena pandemi COVID-19 merupakan kehendak Allah. Allah
mengizinkan hal tersebut terjadi atas kehidupan manusia, sekalipun manusia
mengira bahwa hal ini terjadi oleh karena tindakan manusia belaka. Di balik
semua yang terjadi, tanpa kita sadari; ada tangan Allah yang tersembunyi yang merajut
semua hal ini sehingga dapat terjadi. Tentang hal ini Erwin W. Lutzer berkata “Kita harus membedakan antara penyebab
langsung peristiwa-peristiwa ini dengan penyebab utamanya. Penyebab langsung
suatu gempa bumi adalah suatu gerakan di bawah lapisan bumi; khususnya bagian
atas lapisan bumi bergerak ke satu arah; lapisan yang dibawahnya secara
bertahap bergerak ke arah yang berlawanan. Penyebab langsung suatu angin ribut
adalah pola-pola angin dan suhu, namun penyebab utama peristiwa-peristiwa ini
adalah Allah. Ia mengatur alam semesta baik secara langsung ataupun melalui
penyebab-penyebab sekunder, namun dengan cara apapun, Dialah yang berkuasa.
Bagaimanapun, Ia adalah Pencipta, pemelihara segala sesuatu” (10 Kebohongan Tentang Allah, hal 137).
Sekarang
mari kita melihat kisah krisis ekonomi yang pernah terjadi di dalam Alkitab;
dan itu atas kehendak Allah. Kisah itu dimulai dari seorang anak laki-laki yang
masih muda bernama Yusuf. Ia mendapat mimpi bahwa suatu saat nanti seluruh
saudaranya akan menyembah kepadanya. Oleh karena mimpi itu diceritakan kepada
ayahnya Yakub dan didengar juga oleh kesebelas saudaranya, maka Yusuf dibenci
oleh saudara-saudaranya. Singkat cerita maka Yusuf mengalami tindakan kejam
dari saudara-saudaranya tersebut; di mana ia difitnah telah mati padahal
sesungguhnya dia dibuang ke dalam sumur dan kemudian di jual kepada orang
Ismael ke Mesir. Pada awalnya Yusuf mengalami penderitaan yang begitu berat di
Mesir, tetapi Allah mengangkatnya kemudian menjadi orang nomor dua setelah
Firaun. Yusuf penuh hikmat dan kuasa dari Allah, sehingga ia dapat mempersiapkan
Mesir untuk menghadapi masa krisis ekonomi besar-besaran pada saat itu (Kej
41:56-57). Kelaparan terjadi di mana-mana, sehingga menyebabkan bangsa-bangsa
disekeliling Mesir berdatangan ke Mesir untuk meminta pertolongan persediaan
makanan; demikian pula dengan anak-anak Yakub.
Saudara-saudara
Yusuf pergi ke Mesir untuk meminta pertolongan persediaan makanan, yang
kemudian melalui cara ini Yusuf dan saudara-saudaranya bertemu kembali. Diakhir
dari kisah tersebut Yusuf pun mengakui siapa dirinya di hadapan
saudara-saudaranya; yakni orang yang dahulu mereka mau bunuh dan telah mereka
jual hingga sampai di Mesir. Dibalik semua yang terjadi: penderitaan Yusuf dan
krisis ekonomi, Yusuf berkata “Maka Allah
telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di
bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu
tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah; Dialah
yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh
istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir” (Kej 45:7-8). Kisah
mengenai krisis yang terjadi saat kepemimpinan Yusuf atas Mesir telah
memberitahukan kepada kita bahwa semua hal tersebut terjadi atas kehendak
Allah.
Jikalau
kini kita percaya dan mengetahui bahwa krisis ekonomi yang terjadi atas
kehidupan kita adalah bagian dari rencana Allah; maka seharusnya kita tidak
perlu menjadi lemah, putus asa dan bahkan menyalahkan siapapun. Karena kita
percaya bahwa Allah adalah yang memerintah atas segala keadaan ini. Semua aman
terkendali dalam rencana-Nya yang sempurna dan kekal. Sekalipun kenyataan
tampak tiada harapan, Allah selalu ada untuk memelihara anda dan saya. Meskipun
hari ini anda mungkin harus di PHK, kehilangan mata pencaharian, tiada
persediaan uang, bahkan mungkin tiada makanan untuk hari esok; percayalah bahwa
Tuhan Allah kita adalah pemelihara yang kekal dan sempurna. Keadaan anda saat
ini aman dalam rencanan Tuhan! Tuhan punya maksud di balik semua kenyataan
tersebut.
Pemeliharaan
Allah atas umat-Nya tidak selalu dengan cara yang sama
Jikalau
Allah pernah menyatakan pemeliharaan-Nya atas anda melalui hal yang baik, maka
tidak menutup kemungkinan Allah mewujudkan pemeliharaan-Nya tersebut melalui
hal yang tidak baik; menurut kita. Karena Allah selalu memelihara anda dengan
cara yang bermacam-macam; baik suka maupun duka. Allah kita adalah Allah tidak bisa diformat
dan sekaligus Allah yang tidak mungkin bersedia anda format. Artinya; jika
Allah ingin melakukan sesuatu kepada kita maka Dia juga berhak menggunakan cara
dan sarana seperti yang Ia mau. Kita tidak bisa mengatur Tuhan agar Dia berbuat
seperti ini dan seperti itu. Demikian pula dengan kondisi ekonomi kita. Allah
berhak melakukan apapun atas anda melalui kondisi ekonomi yang cukup dan juga
melalui kondisi ekonomi yang kurang atau krisis.
Coba
kita perhatikan apa yang Paulus pernah katakan tentang dirinya mengenai
pembahasan kita ini “Kukatakan ini
bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam
segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan.
Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan
rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam
hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di
dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13). Perhatikan kalimat
‘Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan’, kalimat ini
menunjukkan kepada kita hari ini bahwa Paulus sebagai rasul pada saat itu tidak
pernah hidup hanya di dalam kelimpahan saja. Ada kalanya ia masuk dalam masa
yang berlimpah-limpah dan ada masanya juga ia di bawa oleh Tuhan untuk masuk
dalam masa-masa yang sukar, sampai-sampai ia pernah kelaparan dan hamper mati!
Dalam
kenyataan yang Paulus alami itu, apakah ia pernah berkata bahwa Allah
meninggalkannya? Apakah Paulus pernah meragukan pemeliharaan Allah atasnya?
Sama sekali tidak. Justru Paulus yakin bahwa
semua keadaan itu membawa kepada kebaikan (Roma 8:28). Jikalau Allah
memelihara umat-Nya dengan cara yang berbeda-beda, oleh karena itu seharusnya
kita tidak perlu menolak krisis ekonomi yang terjadi atas kita. Sebab sangat
besar kemungkinan, bahwa demikianlah cara Allah memelihara umat-Nya. Melalui
penderitaan!
Sampai
di sini kita pasti sudah mengerti bahwa Allah memang benar-benar memelihara
kita meskipun saat ini kita sedang dalam masa krisis ekonomi. Namun akan jauh
lebih besar lagi rasa syukur dan teguhnya iman kita, setelah kita mengetahui
tujuan mengapa Allah mengizinkan krisis ekonomi terjadi atas kehidupan kita
sebagai anak-anak-Nya.
Belajar menaruh pengharapan kita
kepada Allah yang kekal dan yang sanggup melakukan mujizat, bukan kepada materi
yang sementara.
Kecenderungan orang-orang yang mengaku Kristen adalah; lebih percaya kepada uang ketimbang kepada Tuhan! Lebih percaya kepada uang yang akan menyelamatkan kondisi ekonomi ketimbang kepada Allah sebagai juruselamat ekonominya. Itu sebabnya jikalau kita ingin jujur; kita lebih cenderung menjadi seorang ateis praktis. Sekalipun kita tidak pernah mengaku bahwa Tuhan itu tidak ada (ateis teoritis), tetapi di dalam kehidupan kita sehari-hari kita lebih sering percaya kepada uang. Kita lebih sering kuatir tentang makanan, minuman dan pakaian. Tentu hal ini tidak dapat kita benarkan, karena jelas-jelas bertentangan dengan firman Tuhan. Di satu sisi kita juga tidak dapat merasa benar dan suci, karena memang demikianlah keadaan manusia yang lemah. Namun setidaknya kita belajar untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kita merasa ada tanggung jawab untuk hidup meneladai Tuhan kita; Yesus Kristus.
1 Yohanes 2:17 berkata
“Dan dunia ini sedang lenyap dengan
keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup
selama-lamanya”. Semua yang ada di dunia ini akan lenyap dan sedang menuju
pada kelenyapan. Lantas mengapa kita mengharapkannya menjadi penyelamat kita!
Harusnya kita berharap dan bersandar kepada Tuhan; sebagai satu-satunya
penolong atas masa krisis ekonomi. Inilah yang hendak Tuhan ajarkan kepada kita
jikalau krisis ekonomi menimpa. Yaitu agar kita tetap berharap kepada Allah dan
bukan kepada apa yang bersifat sementaran. Uang boleh tidak ada tetapi Allah
akan selalu ada. Ekonomi boleh krisis dan melemah, tetapi Allah akan selalu
eksis dan kuat untuk menopang anda.
Lebih peka untuk saling berbagi dan
menanggung beban, terutama dengan saudara seiman dan gereja Tuhan
Hal
kedua yang Allah ingin ajarkan kepada kita melalui krisis ekonomi ialah: peka
untuk menolong orang lain. Hal ini adalah perkara yang sangat penting dan
genting. Kenapa? Penting karena saling menolong adalah perintah Tuhan, lalu
genting karena saat-saat ini; kita sudah kehilangan hati untuk menolong sesama
kita. Kita lebih cenderung menjadi orang yang egois dan mementingkan diri sendiri,
kelompok sendiri dan mungkin keluarga kita sendiri. Sementara Ibrani 13:16
berkata “Dan janganlah kamu lupa berbuat
baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan
kepada Allah”.
Melalui
pandemi COVID-19 yang terjadi selama hampir dua tahun ini, telah banyak membuat
orang tergerak untuk saling menolong. Begitu banyak diantara kita telah
menyaksikan aksi donasi dan dukungan berupa bahan pokok kepada sesama kita. Ini
semua terjadi bukan karena sebuah kebetulan, tetapi terencana oleh Pribadi yang
sempurna yakni Tuhan Allah. Dimana Tuhan sendiri telah melihat betapa
sedikitnya hati yang mau saling berbagi, terkhusus atas orang-orang percaya
yang mengaku memiliki kasih dan hidup dalam kasih. Dengan krisis ekonomi, Allah
mau mengajari kita untuk tolong menolong! Iman Kristen tidak pernah
membanggakan orang yang memberi dari kelimpahannya, sebab jikalau demikian maka
apa bedanya anda dengan orang yang diluar Kristus? Sama sekali tidak ada
perbedaan! Iman Kristen mengajarkan bahwa kita harus siap memberi dari
kekurangan. Inilah yang benar dan yang dikehendaki oleh Allah.
Agar tergerak untuk bertindak dan
berkreasi
Tujuan
terakhir dari Allah mengizinkan krisis ekonomi terjadi adalah agar setiap kita
tergerak untuk bertindak dan berkreasi. Merupakan kesalahan yang besar jika ada
orang beranggapan setelah kita menjadi Kristen dan percaya kepada Allah sebagai
pemelihara, maka dia tidak perlu berbuat sesuatu untuk hidupnya, sebab Allahlah
yang akan mengerjakan semuanya bagi anda. Kenyataan seperti ini adalah respon
yang salah terhadap doktrin pemeliharaan Allah. Ingatlah bahwa Allah memelihara
anda dan saya melalui sebuah cara dan sarana, seperti yang telah di bahas dalam
poin sebelumnya. Allah menggunakan orang lain, Allah memakai diri anda sendiri
di dalam berkarya dan berkreasi, dan Allah memakai segala yang anda miliki.
Coba
perhatikan apa yang diucapkan oleh penulis Amsal, “Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja”
(Amsal 21:25). Berdasarkan ayat ini maka seharusnya anda bekerja sekalipun saat
ini sedang ditimpa krisis ekonomi. Bekerja? Ya, anda harus bekerja. Pikirkan
dan lakukanlah apa yang anda bisa lakukan dengan apa yang ada di sekeliling
anda hari ini. Jangan diam dan menunggu Allah turun dari surga untuk memberikan
anda kekayaan dan makanan yang banyak, sebab ini keyakinan yang semu. Allah
tidak akan pernah melakukan itu, sebab Dia bekerja melalui anda dan apa yang
ada di sekeliling anda.
Mulailah
berpikir untuk melakukan hal-hal yang bisa anda kerjakan dirumah. Seperti yang
marak terjadi akhir-akhir ini, lebih tepatnya selama masa pandemi COVID-19.
Banyak orang yang bekerja sebagai: asisten virtual, tutor online, pembukuan
online, layanan konsultasi, penerjemah, penulis lepas, pelatih online, katering
kuliner, desainer grafis, editor teks dan video, jual kerajinan, pernak-pernik
dsb. Jual pakaian. Budidaya peliharaan dan bercocok tanam di rumah. Anda bisa
mulai dari hal-hal yang bisa anda konsumsi sendiri, setelah itu berhasil
barulah anda berpikir untuk mengembangkannya agar bisa menjadi sarana anda
mendapatkan pemasukan. Sebagai orang Kristen; anda dipanggil untuk berkarya
ditengah dunia ini. Itulah sebabnya etos kerja orang percaya didasari atas
panggilan Allah.
Bagi
anda yang melayani sebagai seorang gembala sidang, pendeta, penginjil, pengajar
dan dosen serta guru agama; anda masih tetap bisa melayani sekalipun saat ini
pandemic COVID-19 telah banyak mempengaruhi pergerakan pelayanan Kristen di
seluruh tanah air Indonesia. Contohnya adalah anda bisa melakukan ibadah lewat
online, penginjilan di media sosial dan tulisan atau blog, mengajar melalui
zoom, layanan konseling via video call dan telfon. Di atas semuanya ini; anda
adalah orang yang memiliki begitu banyak kesempatan untuk berkreasi selagi
Tuhan masih memberikan kesempatan.
Untuk
mengakhiri poin tentang tujuan mengapa Allah mengizinkan krisis ekonomi
terjadi, saya hendak mengutip apa yang pernah dikatakan Martyn Lloyd Jones
yakni “Oleh karena itu aku harus
memandang keadaan dan kondisi sebagai bagian dari perlakukan Allah terhadapku
di dalam menyempurnakan kerohanianku dan membawa aku pada kesempurnaan akhir” (Buluh Yang Terkulai, Hal 332). Kemudian Roma
8:28 berkata “Kita tahu sekarang, bahwa
Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi
mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan
rencana Allah”.
Akhir
dari semua pembahasan kita kali ini, izinkan saya untuk menuliskan hal ini
kepada anda: krisis ekonomi akan terus terjadi dalam kehidupan manusia,
termasuk kehidupan orang-orang Kristen. Tetapi, hanya orang yang percaya dan
bersandar pada pemeliharaan Allah yang dapat kuat dan konsisten menghadapi
masa-masa sukar tersebut. Dia akan menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan
dalam hidup dan keluarganya. Sebab ia akan terus percaya kepada Allah,
sekalipun uang tidak ada; Allah selalu ada! Amin. Soli Deo Gloria.




Posting Komentar