ZMedia Purwodadi

Kasih Tuhan Nyata Melalui Kegagalan - Ulangan 10:12-15

Table of Contents

 

(Ulangan 10:12-15)

  

Apakah yang dimaksud dengan gagal? Gagal berarti tidak berhasil atau tidak mencapai tujuan. Sebagai contoh, si-Parlin masuk sekolah lanjutan atas. Tujuannya adalah setelah lulus nanti dia akan melanjutkan keperguruan tinggi hingga memiliki gelar doktor dan menjadi dosen di universitas. Namun karena dia anak orang miskin, tidak memiliki kemampuan secara materi, hal yang dicita-citakan itu kandas di tengah jalan. Dia gagal melanjutkan sekolahnya. Jangankan keperguruan tinggi, hanya lulus SLTA saja tidak bisa karena tidak memiliki uang untuk biaya sekolah. Maklumlah dia orang miskin! Kasihan ya?

Apakah maksud judul di atas? Perhatikanlah nats di atas dengan seksama. Dalam nats di atas tercatat: “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.” (Ul. 10:12-13). Tentunya Tuhan memberikan perintah atau ketentuan ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar. Manusia – dalam hal ini adalah umatNya – secara mutlak harus tunduk dan taat melakukan semua yang Tuhan perintahkan itu. Penekanan utama dalam ayat di atas adalah: ‘takut akan Tuhan’, ‘hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya’ dan ‘berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN’. Yang harus kita tanyakan adalah: Adakah manusia dapat mematuhi perintah Tuhan yang bersifat mutlak itu? Apakah kita dapat mentaati Allah sepenuhnya? Apakah kita bisa taat sepenuhnya kepada tuntutan hukum Allah? Wah, hebat amat kalau ada orang yang ngaku-ngaku bisa. Terlalu rohani! Jujur aja daaah. Mungkin ada orang yang bertanya, “kenapa Tuhan memberikan perintah yang nyata-nyata tidak dapat dilakukan manusia?” Jawabannya dapat kita ketahui jika kita mengerti secara detail missi Allah dalam hubungannya dengan pemberian Hukum Taurat kepada bangsa Israel melalui kepemimpinan Musa.

Paulus dengan semua kecakapannya, dimana sebelum bertobat ia adalah seorang ahli Taurat yang terkemuka dan memiliki pendidikan yang memadai di bawah pimpinan Gamaliel (Kis. 22:3). Ia menjabarkan missi Allah kepada manusia dalam kitab Roma, bahwa Hukum Taurat diberikan Allah bukan untuk menyelamatkan manusia, sekalipun Hukum Taurat itu adalah kudus. Hukum Taurat diberikan untuk tujuan sebagai berikut:

& supaya mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak (Rom. 2:18);

& supaya seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah (Rom. 3:19);

& supaya kita mengenal dosa (Rom. 3:20);

& supaya nyata pelanggaran (Rom. 4:15);

& supaya dosa diperhitungkan sebagai pelanggaran (Rom. 5:13);

& supaya pelanggaran semakin banyak  (Rom. 5;20).

            Dalam penjabaran Paulus di atas, tidak sedikitpun terdapat kesan seolah-olah Allah memberikan Hukum Taurat sebagai sarana bagi manusia untuk menyelamatkan diri melalui kepatuhan dan ketaatan kepada butiran Hukum Taurat. Sedangkan puncak dari perintah Allah tertuang dalam seluruh Hukum Taurat. Sebaliknya dengan diberikanNya Hukum Taurat, manusia bukan tertolong dari dosa tetapi justru semakin tenggelam di dalam dosa. Dengan demikian, jelaslah bahwa hukum dan perintah tidak akan menyelamatkan atau membebaskan tetapi kasih karunia Allah dalam Kristus Yesus secara total dan tuntas menyelamatkan umatNya dari dosa.

        Lebih lanjut kita melihat keberadaan manusia setelah Adam jatuh kedalam dosa. Alkitab memberikan rincian dengan jelas bagaimana kedudukan manusia atau keberadaan manusia yang sudah berubah itu.

Semua orang dilahirkan sebagai pendosa (Rom.5:19)

Semua orang adalah budak dosa (Yoh.8:34; Rom.3:9; 6:16-17)

Semua orang mati secara rohani dihadapan Allah (Ef.2:12:1;4:18; Rom.1:21-23; 3:11; I Kor.2:9,14)

Semua manusia terhilang dari hadapan Allah (Luk.19:10; Rom.3:9-18; II Kor.4:3).

Semua orang berdosa melalui perbuatannya (Ef.2:3; Rom.1:21-23)

Semua orang berhutang kepada Allah atas dosa-dosanya (Kej.2:17; Yez.18:4; Rom.6:23).

Semua manusia ada di bawah kutuk dan hukuman Allah (Yoh.3:18)

Manusia tidak berdaya untuk memperbaiki kondisinya atau memenuhi kebutuhan rohaninya sendiri (Rom.5:6)

Lagi pula kondisi manusia yang sudah berubah dari semula yaitu pada waktu ia diciptakan. Martin Luther memberikan penjelasan dengan baik sekali. Dilukiskan keberadaan manusia itu seperti kelereng yang menggelinding bebas kemana ia mau, tetapi setelah masuk ke dalam lubang, maka ia terperogok dan tidak bisa lagi bergerak seperti semula. Demikianlah manusia itu sebelum jatuh ke dalam dosa, ia memiliki kemampuan untuk merealisasikan kehendaknya kepada yang baik dan yang buruk. Tetapi setelah manusia itu memilih untuk melanggar perintah Allah, dia jatuh ke dalam dosa maka ia terperogok dan tidak bisa berbuat sesuatu yang baik sedikitpun – sekalipun ada kehendak – kecuali berbuat dosa karena ia telah ditawan oleh dosa. Selanjutnya Alkitab mencatat manusia tertawan oleh hukum dosa (Rom. 7:22-23), semua ada di bawah kuasa dosa (Rom. 3:9  band. Maz. 14:1-3). Wah …, yang jelas, kasihan dah!

Ada lagi yang menarik perhatian. Dikatakan Sesungguhnya, TUHAN, Allahmulah yang empunya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit, dan bumi dengan segala isinya.” (Ul. 10:14). Maksudnya apa? Masa ga tau sih? Maksudnya adalah, kalau dikatakan Tuhan yang empunya segala sesuatu berarti Dia berkuasa untuk mengendalikan langsung tanpa harus cape-cape memberikan perintah. Dia adalah Allah yang Mahakuasa.  Dia memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu dan semua ciptaan (Maz 147:13-18; Yer 32:17; Mat 19:26; Luk 1:37). Tetapi ada lagi yang lebih menarik dan indah, Dia beri perintah yang tidak mungkin dapat dilakukan manusia yang sebenarnya tanpa perintah itupun Tuhan tetap mewujudkan rencanaNya. Karena rencana Tuhan itu kekal dan tidak akan berubah, dalam berbagai kesempurnaan atau dalam maksud-Nya bagi umat manusia (Bil 23:19; Mazm 102:27-28; Yes 41:4; Mal 3:6; Ibr 1:11-12; Yak 1:17).

            Dengan demikian kita dapat mengaku secara lugas dan apa adanya. Manusia gagal secara total untuk memenuhi keinginan Allah. Yang diinginkan Allah tidak dapat dicapai oleh manusia. Sementara perintah Allah mutlak adanya. Dengan demikian, yaitu karena manusia tidak mampu memenuhi standard kekudusan Allah dalam Hukum Taurat, manusia harus dihukum dalam neraka. Manusia harus binasa kekal.  Wah, wah, wah …, gimana dong? Jangan stres dulu! Paulus berkata: “Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (Rom. 5:20-21). Untuk mengartikan ayat inipun kita harus hati-hati. Jangan sampai ada pemikiran dan berkata “marilah kita berbuat dosa sebanyak mungkin supaya kasih karunia Allah semakin berlimpah-limpah”. Paulus memberikan pertanyaan retorik pada pasal berikutnya. “… apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? (Rom. 6:1). Lagi-lagi dia bertanya: “… Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? (Rom. 6:2).

            Kita tidak lagi hidup di dalam dosa dan juga tidak lagi berbuat dosa. “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” (I Yoh. 3:9). Orang yang lahir dari Allah itu adalah setiap orang percaya (I Yoh. 5:1). Sedangkan seseorang dapat percaya adalah karena panggilan dan karya Allah secara total (Yoh. 6:44; I Kor. 12;3). Disinilah letak kasih Tuhan nyata melalui kegagalan manusia pada judul renungan ini.

        Dengan demikian ada tiga hal yang bisa kita ketahui melalui kegagalan. Kegagalan ini meliputi kegagalan teologis dalam memenuhi perintah Allah juga kegagalan praktis dalam hidup sehari-hari.


1.     Melalui kegagalan kita mengerti cara Tuhan sering sungsang

            Sungsang artinya berbanding terbalik. Kalau ada seorang bayi dikatakan lahir secara sungsang, berarti kelahirannya – seharusnya kepala keluar dahulu – malah kaki yang nongol duluan. Demikian artinya sungsang. Jika dihubungkan dengan kehidupan kita secara praktis sehari-hari, dimana kita adalah orang yang telah disertai oleh Tuhan yang adalah Immanuel, kita sering menemukan kenyataan hidup yang berbanding terbalik dengan yang kita harapkan. Mungkin kita mengharapkan kehidupan berjalan mulus, sebaliknya yang kita alami banyak masalah. Kita mengharapkan yang indah-indah,  sebaliknya yang buruk menimpa kehidupan kita. Kita selalu menghindari yang pahit, namun kenyataan pahit sering menimpa kita. Tentu tidak ada orang yang berharap gagal, numun kegagalan sering terjadi. Tetapi jangan lupa judul renungan ini dimana kasih Tuhan nyata melalui kegagalan. Inilah yang disebut cara yang sungsang. Kembali kepada poin ini, bahwa cara Tuhan adalah cara yang sungsang.

            Sesungguhnya kerajaan Allah pun adalah kerajaan yang sungsang. Yaitu sifat kerajaan yang berbanding terbalik dengan sifat kerajaan yang dibangun oleh manusia di dunia ini. Hal itu sesuai dengan khotbah Yesus di bukit (Mat. 5:3-11). Dalam khotbahNya Ia berkata: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Kesungsangannya adalah bahwa manusia tidak tertarik untuk miskin tapi yang diharapkan selalu kekayaan. Bahkan oleh karena yang diharapkan orang adalah kekayaan, membuat khotbah-khotbah teologi kemakmuran menjadi menarik dan sangat laku atau laris dipasaran. Laku …? Emangnya dagangan!

           Berikutnya Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Kalimat ini bisa dirubah tanpa merubah arti namun semakin memperjelas kesungsangannya. Karena berdukacita sama dengan tidak berbahagia, sehingga bisa dikatakan ‘berbahagialah orang yang tidak berbahagia’. Namun selanjutnya dikatakan bahwa mereka akan dihibur. Kita bisa “berbahagia” dari penghiburan manusiawi. Tetapi malang nian nasipnya seseorang jika dia berbahagia karena dapat penghiburan hanya dari manusia. Sebab penghiburan dari manusia hanya semu dan sementara. Penghiburan dari Allah adalah sejati dan kekal. Yang dihibur oleh Allah adalah mereka yang berdukacita atau yang tidak berbahagia oleh karena dosa dan kejahatan dunia.

            Selanjutanya Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah ... Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Inilah cara yang sungsang. Kerajaan yang sungsang.

            Kalau ternyata yang anda harapkan berbanding terbalik dengan kenyataan, berarti kasih Tuhan akan segera dinyatakan. Tunggu aja! Seperti pesan seorang dosen saya di STT Tawangmangu, beliau berkata kepada saya demikian: “Mangurup, kalau nanti pelayananmu kelihatan mulus dan aman-aman saja, bergumul dan berdoalah karena kamu sedang berada dalam bahaya maut. Tetapi jika pelayananmu penuh dengan masalah, masalah dan masalah, bersyukurlah karena kamu ada dalam kehendak Allah.” Wa …, betul-betul sungsang ya!


2.     Kegagalan adalah syarat kasih karunia Allah

            Apa-apaan ini? Masa sih mesti galal dulu, baru nyata kasih karunia Allah? Kalau dikatakan syarat, berarti sifatnya mutlak ada. Jika dikatakan kegagalan syarat kasih karunia Allah, itu artinya harus gagal dulu baru mendapat kasih karunia Allah! Apakah dengan demikian kita harus sengaja melakukan kegagalan. Ah …, yang bener aja! Mana ada sih orang yang mau gagal.

            Seseorang mau masuk Pegawai Negeri Sipil. Supaya bisa masuk PNS, tentu dia akan memenuhi seluruh peryaratannya. Antara lain, surat-surat keterangan yang lengkap, pengetahuan yang berhubungan dengan memadai dan bahkan “uang yang cukup”. Untuk apa semua ini? Tentu supaya jangan gagal atau supaya berhasil! Intinya semua orang berusaha untuk berhasil. Itu naluri kemanusiaan yang sehat. Kalau ada orang yang sengaja untuk gagal pasti orang itu sudah tidak sehat. Lantas apa maksud poin ini?

            Kita menemukan di Alkitab perjalanan tokoh-tokoh dalam berbagai kegagalan. Bukan kegagalan sepele tetapi kegagalan serius. Disebut kegagalan serius, karena akibatnya fatal. Dalam Kamus Bahasa Indonesia arti fatal adalah mematikan, tidak dapat diubah atau diperbaiki dalam hubungannya dengan kerusakan dan kesalahan, dan menerima nasib yang tidak dapat diubah.

            Kasus-kasus tokoh-tokoh seperti Adam. “Lalu TUHAN Allah memberi perintah … Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, ...” (Kej. 2:16-17). Eh … akhirnya Adam makan juga (Kej. 3:17). Itu namanya gagal menuruti perintah Allah. Tentang Abraham Alkitab mencatat demikian, “Selanjutnya Allah berfirman kepada Abraham: "Tentang isterimu Sarai, janganlah engkau menyebut dia lagi Sarai, tetapi Sara, itulah namanya. Aku akan memberkatinya, dan dari padanya juga Aku akan memberikan kepadamu seorang anak laki-laki, bahkan Aku akan memberkatinya, sehingga ia menjadi ibu bangsa-bangsa; raja-raja bangsa-bangsa akan lahir dari padanya. (Kej. 17:15-16). Dengan mengacu kepada kenyataan bahwa Sara belum mengandung sementara usia sudah lanjut karena memang dia adalah wanita mandul (Kej. 11:30), Abrahampun menjadi tidak percaya akan kata-kata Tuhan di atas lalu menyetujui perkataan istrinya Sara dan mengambil Hagar supaya mendapatkan anak (Kej. 16:1-16). Wah …, lagi-lagi Abraham gagal. Demikianpun jika kita menyelidiki kisah tokoh-tokoh yang lain, maka kita akan menemukan kegagalan demi kegagalan. Mungkin ada baiknya kita bertanya: mengapa kehidupan umat Tuhan di dalam Alkitab diwarnai bahkan didominasi oleh kegagalan? Apakah Tuhan menghendaki umatNya gagal? Tentunya kita tidak setuju kalau dikatakan Tuhan menghendaki umatNya gagal. Mungkin lebih tepat jika kita berkata Tuhan mengijikan umatNya gagal. 

            Sebaliknya dengan kegagalan kita akan tahu, sadar dan mengaku, bahwa kita tidak ada apa-apanya, kita bodoh, kita tidak berpengetahuan. Kita akan menyadari bahwa kita lemah. Kita akan sadar betul bahwa kita ini “o’on”. Eh …, sory, bercanda! Dengan kenyataan gagal, biasanya kita menyerah dan pasrah. Orang Kristen tentu menyerah dan pasrah kepada Tuhan Yesus. Kegagalan biasanya menyebabkan kita angkat tangan dan demikianlah Tuhan turun tangan untuk melakukan karyaNya. Selagi kita merasa kuat, Tuhan membiarkan. Setelah kita sadar bahwa kita lemah dan berserah, maka nyatalah kasih karunia Tuhan yang berkarya. Dengan kenyataan seperti ini, kita akan cepat meresponi panggilan Yesus yang berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat. 11:28). Respon ini akan menjadikan iman kita bertumbuh. Kita dengan semangat datang kepada Tuhan.


3.     Melalui kegagalan nyata pemeliharaan Allah.

Saudara-saudara Yusuf gagal dalam mengerti kehendak Allah. Itu terlihat jelas dari kata-kata Yusuf kepada mereka: “Janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu.” (Kej. 45:5).

Setelah Allah menciptakan langit dan bumi, Ia tidak meninggalkan dunia berjalan sendiri. Sebaliknya, Ia terus terlibat secara khusus di dalam kehidupan umat-Nya. Allah bukanlah seperti seorang ahli pembuat jam yang membuat bumi, menjalankannya, dan kini membiarkannya berjalan sendiri. Ia adalah Bapa penuh kasih yang senantiasa memelihara apa yang telah diciptakan-Nya. Perhatian Allah yang terus-menerus atas umat-Nya secara doktrinal disebut pemeliharaan Allah. Setidak-tidaknya terdapat tiga aspek pemeliharaan Allah.

a.   Pelestarian. Dengan kuasa-Nya Allah melestarikan dunia yang diciptakan-Nya. Pengakuan Daud itu jelas, “Keadilan-Mu adalah seperti gunung-gunung Allah, hukum-Mu bagaikan samudera raya yang hebat. Manusia dan hewan Kauselamatkan (versi Inggris NIV – peliharakan), ya Tuhan.” (Maz.36:7). Kuasa Allah yang melestarikan terlaksana melalui Putra-Nya Yesus Kristus, sebagaimana ditegaskan oleh Paulus dalam Kol 1:17, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” Oleh kuasa Kristus partikel hidup yang terkecil pun dipersatukan.

b.   Penyediaan. Allah bukan saja melestarikan bumi yang diciptakan-Nya, tetapi Ia juga menyediakan apa yang diperlukan oleh ciptaan-Nya itu. Ketika Allah menciptakan bumi, Ia menciptakan musim (Kej 1:14) dan memberi makan manusia dan hewan (Kej.1:29-30). Setelah air bah menghancurkan bumi, Allah memperbaharui janji penyediaan ini dengan berfirman, “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam” (Kej 8:22). Beberapa mazmur menegaskan kebaikan Allah dalam menyediakan kebutuhan bagi makhluk-makhluk ciptaan-Nya (Maz.104:1-35; 145:1-21). Allah sendiri menyatakan kuasa-Nya untuk menciptakan dan memelihara kepada Ayub (Ayub 38:1-41:34), dan Yesus mengatakan dengan tegas bahwa Allah menyediakan kebutuhan burung-burung di udara dan bunga-bunga bakung di padang (Mat 6:26-30; 10:29). Pemeliharaan-Nya menyediakan bukan saja kebutuhan jasmaniah manusia, tetapi juga kebutuhan rohaninya (Yoh 3:16-17). Bukan hanya menyediakan untuk hidup kini tetapi juga hidup yang akan datang dan kekal. Alkitab menyatakan bahwa Allah menunjukkan kasih dan perhatian khusus bagi umat-Nya, yang masing-masing pribadi dihargai-Nya. Paulus menulis dengan tegas kepada jemaat di Filipi, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Flp. 4:19).

c.   Pemerintahan. Di samping pelestarian dan penyediaan kebutuhan ciptaan-Nya, Ia juga memerintah dunia ini. Karena Allah berdaulat, peristiwa-peristiwa dalam sejarah terjadi menurut kehendak-Nya yang mengizinkan dan pengawasan-Nya. Kadang-kadang Ia turun tangan langsung melaksanakan maksud-maksud penebusan-Nya.

Namun demikian, untuk memperjelas tiga aspek pemeliharaan Allah di atas, Allah mengijinkan kegagalan untuk kita alami supaya nyata bahwa Dia memelihara umatNya. Kegagalan adalah untuk memperjelas pemeliharaanNya.


    Setelah kita menelusuri hal-hal yang berhubungan dengan kegagalan dan kasih Tuhan nyata melalui kegagalan, maka jika kita mengalami kegagalan baik secara teologis maupun secara praktis dalam kehidupan sehari-hari, jangan disesali atau dikutuki tetapi disyukuri. Dan ada beberapa hal yang bisa kita ketahui melalui kegagalan: kita akan menyadari dan mengerti cara Tuhan yang sering sungsang, kegagalan adalah menjadi syarat kasih karunia Allah dan melalui kegagalan nyata pemeliharaan Allah.

 

2 komentar

Comment Author Avatar
18 Januari 2022 pukul 19.44 Delete
Kegagalan yg fatal
Mati,bunuh diri
Bukan kah itu kegagalan?
Mohon pencerahan
Slamat malam
Comment Author Avatar
19 Januari 2022 pukul 09.53 Delete
Amin