Menderita dalam Pekerjaan
(1 Petrus 2:18-21)
18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Penderitaan adalah sebuah realitas yang sulit diterima oleh banyak orang. Sebagai manusia, kita cenderung menghindarinya, memandangnya sebagai momok yang menakutkan, bahkan mempersenjatai diri dengan berbagai cara agar tidak perlu menghadapinya. Namun, bagaimana jika penderitaan itu datang dalam pekerjaan kita? Bukankah bekerja seharusnya membawa manfaat dan keuntungan?
Di dunia kerja, kita sering mendengar ungkapan, “Profesional dong!” yang mengisyaratkan bahwa pekerjaan harus bebas dari segala bentuk ketidaknyamanan, termasuk penderitaan. Ironisnya, bahkan dalam pelayanan Kristen, sering muncul polemik seputar hedonisme dan tuntutan untuk selalu makmur.
Namun, 1 Petrus 2:18-21 membawa kita ke dalam realitas yang berbeda. Firman ini menyerukan agar para hamba tunduk kepada tuan mereka, bukan hanya kepada yang baik, tetapi juga kepada yang bengis. Konteksnya bukan hanya tentang hubungan hamba-tuan pada zaman dulu, tetapi juga relevan bagi kita semua yang bekerja di bawah otoritas orang lain, termasuk para pelayan Tuhan.
Di masa itu, ada pemikiran keliru di antara jemaat bahwa kebebasan rohani berarti tidak perlu tunduk pada pemimpin duniawi. Rasul Petrus meluruskan pandangan ini dengan menyatakan bahwa penderitaan dalam pekerjaan, jika ditanggung dengan kesadaran akan kehendak Allah, adalah sebuah kasih karunia.
Dua Alasan Kita Harus Rela Menderita dalam Pekerjaan
1. Karena Hidup Kita di Dalam Kasih Karunia
Dalam ayat 19, Petrus menekankan bahwa penderitaan yang ditanggung demi kesadaran akan kehendak Allah adalah kasih karunia. Ini mengajarkan bahwa kasih karunia menjadi standar tertinggi dalam hidup kita, melampaui tuntutan duniawi seperti balas jasa atau pengakuan.
Kasih karunia berarti hidup tanpa tuntutan balasan. Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk menanggung sesuatu yang mungkin tidak seharusnya kita tanggung—bukan karena kelemahan, tetapi karena ketaatan kepada Allah. Ayat 20 menegaskan bahwa penderitaan yang kita alami bukan karena kesalahan kita, tetapi karena kita melakukan kebaikan, adalah sebuah pujian di hadapan Allah.
Penderitaan Demi Kristus
Penderitaan yang kita alami bukanlah demi keuntungan manusiawi, tetapi demi Kristus. William Barclay menulis, “Pekerjaan dalam ajaran Kristen dilakukan bukan untuk tuan duniawi, gengsi pribadi, atau uang, melainkan untuk Allah.” Jika prinsip ini kita pegang, maka kita akan tetap setia bekerja meskipun menghadapi berbagai ketidakadilan seperti gaji yang tidak memadai, fitnah, atau pengabaian.
Warren W. Wiersbe menambahkan bahwa hubungan kita dengan Allah lebih penting daripada hubungan dengan manusia. Ketika kita diperlakukan tidak adil, kasih karunia Allah memampukan kita untuk menanggungnya tanpa kehilangan integritas.
2. Karena Kita Harus Meneladani Kristus Tuhan
Ayat 21 mengingatkan kita bahwa kita dipanggil untuk menderita seperti Kristus. Sebuah pemikiran dangkal yang sering muncul adalah bahwa menjadi Kristen berarti selalu sukses dan makmur. Namun, kenyataannya, Kristus sendiri membuktikan bahwa berada dalam kehendak Allah tidak berarti bebas dari penderitaan.
Wiersbe menjelaskan, “Yesus membuktikan bahwa seseorang dapat sangat dikasihi oleh Allah, tetapi tetap mengalami penderitaan yang tidak adil.” Salib adalah bukti paling nyata bahwa penderitaan bisa menjadi bagian dari rencana Allah yang sempurna.
Mengikuti Jejak Kristus
Mengikuti Kristus berarti bersedia menghadapi apa pun, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Ketika Kristus dicaci maki, Dia tidak membalas; ketika menderita, Dia tidak mengancam, melainkan menyerahkan segalanya kepada Allah yang menghakimi dengan adil. Bahkan, Dia memikul dosa kita agar kita hidup dalam kebenaran (ayat 23-24).
Sebagai murid Kristus, gaya hidup kita harus mencerminkan teladan-Nya. Kita dipanggil untuk tetap setia meskipun menghadapi ancaman, penghinaan, atau ketidakadilan. Penderitaan yang kita alami adalah persembahan hidup kita kepada Allah. Jika Kristus rela menanggung penderitaan sebesar itu untuk menyelamatkan kita, mengapa kita tidak mau menanggung penderitaan untuk memuliakan Dia?
Penutup
Penderitaan dalam pekerjaan adalah kesempatan untuk menunjukkan kasih karunia Allah yang bekerja dalam hidup kita. Dengan meneladani Kristus, kita dapat menghadapi segala tantangan dengan iman dan ketekunan. Bukan hanya untuk sekadar bertahan, tetapi untuk menyatakan bahwa hidup kita adalah persembahan yang menyenangkan hati Allah. Tetaplah setia, karena Tuhan yang kita layani adalah Allah yang menghakimi dengan adil dan memberikan upah kepada mereka yang tetap bertahan dalam kasih karunia-Nya.

Posting Komentar