Renungan Kritis Terhadap Stoisisme
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:5-6
Filsafat
Stoisisme adalah sebuah ajaran kuno yang menekankan penguasaan diri, ketenangan
batin, serta menerima hal-hal yang tidak dapat diubah. Sekilas, ajaran ini
terdengar baik, bahkan bijaksana. Tokoh-tokohnya seperti Marcus Aurelius,
Epictetus, dan Seneca mengajarkan bagaimana seseorang bisa tetap tenang
meskipun mengalami kehilangan, kegagalan, atau penderitaan. Namun, di balik
ajaran yang kelihatannya mulia ini, terdapat satu masalah besar: Stoisisme
sepenuhnya dibangun atas kekuatan logika dan kemampuan manusia, tanpa
melibatkan Allah yang hidup.
Sekarang
mari kita melihat lebih dalam berdasarkan firman Tuhan. Perhatikan Amsal
3:5-6. Firman Tuhan dengan jelas berkata: “Janganlah bersandar kepada
pengertianmu sendiri.” Inilah letak kelemahan mendasar Stoisisme. Ajaran itu
mendorong manusia untuk mengandalkan diri sendiri dalam menguasai emosi, dalam
menerima keadaan, bahkan dalam mencari ketenangan. Padahal, menurut Alkitab,
manusia tidak mungkin memperoleh kedamaian sejati dari dirinya sendiri, sebab
hati manusia sudah dikuasai oleh dosa (Yeremia 17:9). Stoisisme menaruh
pusat hidup pada diri, sedangkan Alkitab menaruh pusat hidup pada Allah.
Selain
itu, Stoisisme berkata bahwa ketika kita kehilangan sesuatu, kita harus belajar
melepaskannya dengan ikhlas, karena semua hanya sementara. Tetapi firman Tuhan
lebih tegas dari itu: “Segala sesuatu yang baik dan yang sempurna datangnya
dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang” (Yakobus 1:17). Kehidupan,
berkat, bahkan penderitaan bukan sekadar hal yang harus “diterima dengan
tenang”, melainkan bagian dari rencana Allah yang penuh kasih bagi kita.
Kita tidak diajar untuk sekadar menekan emosi, tetapi untuk menyerahkan seluruh
perasaan kita kepada Allah. Rasul Petrus berkata: “Serahkanlah segala
kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7).
Perhatikan
pula perkataan Yesus: “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu. Dan apa yang
Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia ini” (Yohanes 14:27). Damai
yang ditawarkan Stoisisme hanyalah damai buatan manusia, rapuh, dan terbatas.
Tetapi damai dari Kristus adalah damai sejati yang mengisi hati, melampaui
pengertian manusia, dan menopang kita dalam segala keadaan. Jadi jelaslah,
ketenangan batin tidak mungkin dicapai dengan menahan emosi atau logika belaka,
melainkan dengan penyerahan total kepada Tuhan.
Saudara,
inilah yang membedakan kita sebagai orang percaya. Kita tidak diajar untuk
hidup dalam stoik yang kaku, tetapi dalam relasi yang penuh kasih dengan Allah
Sang Gembala secara pribadi. Dialah yang menuntun hidup kita, memberi damai
sejahtera, dan menolong kita menghadapi setiap keadaan. Tugas kita bukan
“menguasai diri” semata, melainkan bersandar penuh kepada kuasa Roh Kudus
yang memimpin kita setiap hari.
Jadi,
demikianlah kebenaran firman Tuhan ini. Stoisisme hanyalah filosofi manusia,
tetapi Kristus adalah jawaban sejati bagi jiwa kita. Kiranya kita selalu berjalan bersama Tuhan, bersandar pada-Nya, dan menemukan
ketenangan sejati hanya di dalam Dia. Amin. Tuhan memberkati.
(Pdt. Theos M. Purba)
