Tuhan Adalah Gembala Kita
“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya” Mazmur 23:1-3
Kata
gembala adalah sebutan yang penuh makna. Seorang gembala bukan hanya sekadar
orang yang memelihara kawanan domba, melainkan pribadi yang memperhatikan,
mengurus, bahkan rela berkorban demi domba-dombanya. Demikian pula gambaran
yang dipakai Daud dalam mazmur ini. Ia menyatakan bahwa TUHAN itu adalah
gembalanya. Ini berarti relasi Daud dengan Allah begitu dekat, intim, dan penuh
dengan rasa percaya. Dari kenyataan ini, kita dapat menarik pesan yang luar
biasa: kita yang percaya kepada-Nya adalah domba-domba kepunyaan Allah, yang
dipelihara, dijaga, dan dituntun langsung oleh-Nya.
Sekarang
mari kita melangkah lebih jauh dan dalam lagi untuk menggali kebenaran firman
Tuhan ini. Perhatikan kata, “TUHAN adalah
gembalaku, takkan kekurangan aku.” Kata “adalah” di sini bukan sesuatu yang
bersifat sementara, melainkan identitas Allah yang tetap dan tidak berubah.
TUHAN bukan hanya pernah menjadi gembala, atau akan menjadi gembala, tetapi
saat ini dan selamanya Dialah gembala kita. Sebagai gembala, Allah tidak pernah
membiarkan domba-Nya kelaparan, terlantar, atau tersesat. Karena itu, Daud dengan
penuh keyakinan berkata: “takkan
kekurangan aku.”
Lebih
lanjut, pemazmur melanjutkan: “Ia
membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang
tenang.” Dua gambaran ini menunjukkan betapa TUHAN memberi ketenangan dan
kecukupan. Rumput hijau berbicara tentang makanan rohani yang segar, yaitu
firman-Nya. Sedangkan air yang tenang melambangkan kedamaian sejati yang hanya
bisa datang dari Allah. Dunia mungkin menawarkan kepuasan semu, tetapi hanya
Allah gembala kita yang mampu memberikan kenyamanan sejati dan pemeliharaan
yang menyegarkan jiwa.
Kemudian,
ayat 3 menegaskan: “Ia menyegarkan
jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.” Inilah
bukti kasih dan kesetiaan Allah. Ia tidak hanya memberikan kebutuhan jasmani,
tetapi juga memperbarui batin kita. Jiwa yang lelah dipulihkan-Nya. Jalan yang
benar ditunjukkan-Nya. Semua ini bukan karena kita pantas, melainkan oleh
karena nama-Nya—artinya, demi kemuliaan dan kesetiaan-Nya sendiri. Allah
bertindak sebagai gembala yang baik bukan karena kebaikan kita sebagai domba,
tetapi karena sifat-Nya yang penuh kasih setia.
Saudara,
dari perenungan ini kita dapat melihat bahwa kehidupan kita sepenuhnya aman di
dalam tangan Sang Gembala. Dia memelihara kita, menuntun kita, dan menyegarkan
jiwa kita. Oleh sebab itu, tidak pantas bila kita merasa khawatir atau takut
dalam menjalani hidup ini. Sebab gembala kita adalah Allah yang Mahakuasa dan
setia.
Jadi,
demikianlah keberadaan kita sebagai umat gembalaan Allah. Marilah kita semakin
bersandar kepada-Nya, berjalan di jalan yang benar, dan hidup dengan tenang di
bawah pemeliharaan-Nya. Kiranya kesadaran bahwa Allah adalah Gembala kita ini
membuat kita semakin percaya, taat, dan bersyukur dalam setiap langkah hidup.
Amin. Tuhan memberkati.
(Pdt. Theos M. Purba)

Posting Komentar